Gelaran Rakyat Rangkaian Hari Jadi DIY, Sarana Mengenalkan Simbol dan Nilai Kebudayaan
Dok. Kegiatan Koordinasi Persiapan Kegiatan Gelaran Rakyat Rangkaian Hari Jadi DIY "Mangayubagya Yuswa Dalem" di aula Kalurahan Margosari
Margosari, Kulon Progo- Pada Jumat, 27 Maret 2026 dilaksanakan Koordinasi Persiapan Kegiatan Gelaran Rakyat Rangkaian Hari Jadi DIY "Mangayubagya Yuswa Dalem" yang akan dilaksanakan di Yogyakarta pada Kamis, 2 April 2026 mendatang. Koordinasi ini dilaksanakan di Aula Kalurahan Margosari dan diikuti oleh koordinator wilayah kapanewon baik itu panewu, lurah, maupun pamong kalurahan. Gelaran rakyat ini besok akan diikuti oleh perwakilan pamong kalurahan dari 438 kelurahan/kalurahan di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta dengan jumlah peserta diperkirakan mencapai angka 13.218 jiwa.
Dalam kegiatan koordinasi ini, disepakati beberapa hal seperti busana jawa, yang dikenakan peserta, titi lampah menuju Kraton Yogyakarta, pisungsung yang dibawa peserta, perihal keberangkatan, dan sebagainya. Busana jawa yang dikenakan untuk peserta pamong kalurahan adalah busana jawa pranakan (baju kurung lurik biru/hitam) dengan jarit wiru engkol dan untuk peserta perempuan dengan menggunakan sanggul.
Mendukung kegiatan tingalan tersebut, Ketua Bodronoyo/Lurah Margosari menginisiasi latihan membuat wiru engkol bagi peserta koordinasi. Kegiatan latihan membuat wiru engkol dipimpin oleh Bapak Lana, Lurah Kalirejo, Kokap. Wiru engkol jogja adalah teknik melipat kain jarik (wiron) khas Yogyakarta yang membentuk pola zigzag atau dikenal dengan istilah "mengkol-mengkol", umumnya digunakan oleh Abdi Dalem kakung (laki-laki). Ciri khasnya adalah lipatan ganjil (7 lipatan) selebar 3 jari, dengan ujung bawah menghadap ke kiri dan terpasang di sisi kanan tubuh. Jumlah lipatan ganjil melambangkan permohonan pertolongan kepada Tuhan. Angka tujuh dalam bahasa jawa yaitu pitu, dimaknai pitulungan atau pertolongan dalam bahasa Indonesia.
Bapak Lana selaku pemandu latihan menegaskan perlunya belajar bersama-sama untuk menambah pengetahuan tentang cara berbusana Gagrag Ngayogyakarta yang kaya filosofi, dengan begitu nilai-nilai luhur budaya kemataraman dapat secara turun-temurun ditularkan kepada anak-cucu.
"Maka dari itu ada satu peribahasa, durung becus kaselak besus." pungkasnya.
Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin