Lestarikan Tradisi "Kalisoka uri- urip Kepungan Muludan".

01 September 2026
WAHYU NURARIFAH
Dibaca 26 Kali

KALISOKA - Semangat kebersamaan warga Padukuhan Kalisoka Rt 26 kembali terasa kental. Setiap bulan Mulud, tepatnya pada tanggal 12 Mulud penanggalan Jawa, masyarakat di wilayah ini masih setia menggelar tradisi turun-temurun bernama "Kepungan Muludan". Tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai gotong royong dan silaturahmi masih hidup di tengah era modern.

Kepungan Muludan bukan sekadar acara seremonial biasa. Kegiatan ini digelar sebagai sarana bagi warga untuk bertemu, berbagi cerita, dan mempererat tali persaudaraan dengan sanak saudara serta tetangga sekitar. Dalam suasana sederhana namun hangat, warga berkumpul di satu tempat membawa makanan untuk "dikepung" bersama. Makna "kepungan" sendiri adalah berkumpul melingkar, melambangkan kebersamaan tanpa sekat.

Menariknya, tradisi ini selalu jatuh pada tanggal 12 Mulud. Bagi masyarakat Jawa, bulan Mulud memiliki kedudukan istimewa karena bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sehingga Kepungan Muludan juga menjadi momen untuk meneladani akhlak Nabi melalui cara sederhana: berbagi dan saling menghargai. Anak-anak, hingga para sesepuh semua larut dalam suasana yang sama.

Hal ini bertujuan agar tradisi tidak tergerus zaman. "Kami ingin anak muda tahu kalau budaya kita ini penting. Lewat Kepungan, kami belajar menghormati orang tua dan menjaga kerukunan," ujar salah warga. Kepungan Muludan di awali dengan doa bersama yang di pimpim oleh Rois/Kaum tokoh Agama Islam, dengan penuh khidmat dan ketenangan semua warga menengadah penuh harap kepada sang Pencipta Allah SWT, dan di lanjutkan makan bersama dan berbagi makanan yang di bawa oleh masing" warga serta menikmati jamuan yang di suguhkan. 

Di tengah arus digital dan kesibukan sehari-hari, Kepungan Muludan menjadi oase yang mengingatkan warga akan pentingnya kebersamaan. Lebih dari sekadar makan bersama, tradisi ini memberi arti mendalam tentang saling peduli, saling menguatkan, dan menjaga identitas budaya lokal. Selama Kepungan Muludan terus digelar, maka semangat persaudaraan warga pun akan terus hidup dari generasi ke generasi.